Aku Bangga Jadi Lulusan SMK !

Share :

Ini adalah kisahku kawan, sebuah perjalanan yang begitu panjang tentang pendidikanku. Namaku Kabul Kurniawan, teman-temanku biasa memanggilku “Wawan”, aku adalah seorang siswa lulusan SMK Ekonomi (baca : SMEA) jurusan Administrasi Perkantoran. Seorang remaja yang memiliki cita-cita tinggi untuk meraih pendidikan setinggi-tingginya. Ya, kuliah di universitas ternama dan di jurusan favorit adalah cita-citaku kawan. Meskipun dari keluarga kurang mampu secara ekonomi, namun keinginanku untuk kuliah memberiku motivasi untuk berjuang meraih mimpiku. Bismillah..

Juli 2006, saat itu adalah bulan dimana banyak lulusan SMA mendaftarkan diri mengikuti SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru). Aku, yang waktu itu adalah seorang lulusan SMEA tidak ingin berhenti begitu saja untuk tidak melanjutkan kuliah. Meskipun lulusan SMEA namun semangat untuk kuliah tidak kalah dengan remaja lain dari SMA, ya waktu itu aku berkeinginan untuk bisa masuk salah satu PTN di Semarang. Universitas Diponegoro (UNDIP) dan Universitas Negeri Semarang (UNNES) menjadi pilihanku waktu itu. Asal engkau tahu kawan, di SMEA jarang ada informasi terkait SPMB maupun ujian masuk perguruan tinggi lainnya. Maklumlah, siswa-siswi SMEA waktu itu memang dididik tidak untuk melanjutkan kuliah, melainkan menjadi tenaga terampil yang siap kerja. Sehinga bukan informasi SPMB yang ada, melainkan justru informasi lowongan pekerjaan yang diumumkan.

Sebenarnya dulu aku ingin sekali sekolah di SMA, namun akhirnya aku mengurungkan diri sehingga aku memilih SMK. Salah satu alasan kenapa aku akhirnya memilih sekolah di SMK adalah karena aku tidak mau membebani orangtuaku. Lulusan SMK memiliki keahlian tertentu yang bisa digunakan untuk bekerja sehingga aku tidak perlu khawatir jikalau tidak bisa melanjutkan kuliah lantaran masalah ekonomi. Perlu diketahui, aku termasuk lulusan terbaik di SMP Negeri di daerahku waktu itu sehingga sebetulnya sangat mudah bagiku untuk masuk di SMA, mengingat teman-teman SMP banyak yang diterima di SMA Negeri favorit di Pekalongan, daerahku.

H-7 sejak pendaftaran SPMB, aku baru tahu ternyata soal-soal yang diujikan sebagian besar adalah materi yang kebanyakan dipelajari di SMA, bukan SMK. Aku terkejut waktu itu, ketidaktahuanku tentang sistem seleksi SPMB membuatku tidak memiliki kesiapan yang cukup untuk mengikuti seleksi. Lain halnya dengan teman-temanku dari lulusan SMA. Mereka tentunya telah memiliki kesiapan yang cukup karena telah mengetahui SPMB sejak lama dan yang lebih penting lagi, mereka telah mempelajari dan mempersiapkan materi sejak mereka duduk di kelas 1 SMA.

Meskipun begitu aku tetap nekat mendaftarkan diri mengikuti SPMB. Waktu itu aku memilih dua pilihan jurusan, pilihan pertama adalah S-1 Sastra Inggris di UNDIP (Universitas Diponegoro) dan S-1 Pendidikan Bahasa Inggris di UNNES (Universitas Negeri Semarang). Dua pilihan tersebut termasuk kedalam kelompok IPS. Kenapa aku memilih IPS? di SMK, apalagi SMEA jurusan Perkantoran tidak dipelajari pelajaran-pelajaran berbau Sains seperti Fisika, Biologi, Kimia, Matematika IPA dan sebagainya. Pun tidak pula ditemui pelajaran seperti Geografi dan Sosiologi. Pelajaran-pelajaran tersebut diganti dengan pelajaran ketrampilan seperti Ekonomi, Akutansi, Surat-menyurat, Kearsipan dan pelajaran praktik lainnya seperti Stenografi, Mengetik dan Komputer. Meskipun ada pelajaran adaptif seperti Matematika Dasar, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, namun pelajaran tersebut cenderung lebih ke penerapan untuk ekonomi sehingga tidak mendalam seperti yang dipelajari di SMA. He2.. akan sangat bodoh bagiku jika mengambil jurusan dari Kelompok IPA yang bukan bidangku sama sekali. Disamping aku akan kesulitan mengerjakan soal-soalnya, bisa dipastikan aku tidak akan lolos SPMB.

Waktu seminggu sebelum ujian aku habiskan untuk mempelajari materi yang akan di ujikan di SMPB. Karena aku mengambil kelompok IPS, sehingga aku harus mempelajari materi pelajaran seperti Matematika Dasar, Geografi, dan Sejarah. Semua materi itu aku pelajari sendiri secara otodidak melalui buku-buku yang aku pinjam dari teman dan buku-buku bank soal SPMB yang kubeli dari toko. Keraguan mulai menyelimutiku tatkala hari H ujian SPMB hanya dalam hitungan hari. Kecemasan tidak lolos di SPMB mulai menghantuiku. Rasanya sangat berat sekali jika harus mempelajari materi pelajaran SMA IPS yang seharusnya dipelajari selama tiga tahun itu dalam tempo satu minggu. Waktu itu tidak ada satupun orang yang dapat membimbingku dalam belajar karena rata-rata kawan SMA juga sibuk menyiapkan ujiannya sendiri. Saat itu aku hanya bisa pasrah dan berdo’a kepada Alloh semoga ada sebuah keajaiban yang bisa membawaku sukses dalam ujian SPMB.

Hari H, ujian SPMB pun tiba. Waktu itu ujian dilaksanakan di kampus UNDIP di daerah Tembalang. Dalam kecemasan dan kekhawatiranku aku tetap nekat mengikuti Ujian tersebut kawan. Dengan berbekal materi yang sudah aku pelajari selama seminggu aku siap untuk bersaing dengan peserta lainya yang rata-rata anak SMA. Sesaat setelah ujian di mulai, Alloh memberiku cobaan yang tidak disangka-sangka. Di saat pusingnya mengerjakan soal-soal, tiba-tiba gigi gerahamku mulai bereaksi, ya.. tiba-tiba saja aku terserang sakit gigi yang luar biasa kawan. Efek stress dan panik mengerjakan soal mengkin menjadi penyebab terjadinya sakit gigi yang luar biasa dahsyat itu. Baru lima belas menit waktu kugunakan untuk mengerjakan soal, selanjutnya perjalanan waktu ujian aku lalui dengan menahan rasa sakit. Rasa marah dan berkecamuk benar-benar memenuhiku pagi itu. Soal-soal SPMB tidak lagi aku perhatikan karena menahan rasa sakit. Dari sekian soal hanya sekitar 25 % soal yang benar2 aku kerjakan. Selebihnya, jawaban hanya aku pilih secara random tanpa mempedulikan benar atau salah. Keluar dari ruangan ujian aku merasa menjadi orang yang paling sial. Aku menyalahkan diriku sendiri, kenapa aku dulu sekolah di SMK, kenapa tidak di SMA. Kalau di SMA pasti aku dapat menjawab soal-soal tadi dengan mudah. Terlebih sakit gigi yang masih belum juga renda menambah kekesalan dan kemarahanku terhadap diriku sendiri. Astaghfirulloh…

Waktu demi waktu, terus berjalan mengiringi penantianku melihat pengumuman peserta SPMB yang diterima. Aku sangat pesimis waktu itu dan tidak yakin kalau aku bisa diterima sebagai mahasiswa PTN. Hari pengumuman pun tiba, di pagi yang buta aku bergegas menuju warnet untuk melihat pengumuman. Sesampainya di warnet aku mulai membuka alamat website SPMB. Dengan rasa was-was dan harap-harap cemas aku mengetikkan nomer pendaftaranku disana, dan akhirnya seperti yang telah aku duga sebelumnya kawan, ya.. aku gagal diterima sebagai mahasiswa UNDIP maupun UNNES. Hari itu aku menangis, terpukul dan kecewa. Aku merasa menjadi orang yang paling bodoh waktu itu. Kekecewaan tidak diterima di PTN membuatku enggan mencoba masuk di PTS, disamping biaya yang mahal, belum tentu akan sesuai dengan keinginan. Terkadang aku iri dengan teman-teman SMP yang berhasil masuk di PTN yang sebelumnya melanjutkan ke SMA, bukan SMK. Alloh ya Robbi..

Disela-sela penyesalan dan kesedihanku aku memberitahu orangtuaku kalau aku ingin mengikuti kursus selama setahun. Aku ingin memperdalam kemampuanku dibidang komputer, karena komputer merupakan materi yang paling aku sukai dulu waktu SMEA. Selain itu dengan mengikuti kursus setidaknya aku memiliki aktifitas sembari menunggu tahun berikutnya untuk mengikuti SPMB lagi. Dengan berbagai pertimbangan akhirnya orangtuaku pun menyetujui, namun mereka hanya bisa menjamin biayaku hanya untuk setahun, maklum orangtuaku masih memiliki beban untuk membiayai sekolah adik perempuanku yang waktu itu sedang duduk di bangku SMP.

Akhirnya aku memutuskan untuk merantau ke kota Yogyakarta kawan, kota yang belum pernah aku kunjungi sebelumnya. di Jogja aku mendaftar di sebuah lembaga kejuruan setara Diploma satu, IPPI Yogyakarta. Di lembaga tersebut aku mengambil jurusan Programmer Komputer. Aku memilih jurusan ini karena memang dari awal aku tertarik dengan komputer. Di jurusan ini aku merasa sangat cocok, karena materi kuliahnya sesuai dengan yang aku minati, mulai dari Pemrograman Visual, Desain Web, Desain grafis, Basis Data dsb. Ya, saat itu aku kuliah dengan begitu bersemangat, sehingga rasa-rasanya kuliah tanpa ada beban.

Semester awal aku berhasil meraih IP 3,73, tertinggi di kelas pada waktu itu. Dan alhamdulillah, lantaran itulah akhirnya di semester itu aku direkrut oleh Gama Exacta Publisher, sebuah perusahaan penerbit di Jogjakarta yang memiliki kerjasama dengan kampusku waktu itu. Aku diminta menjadi karyawan part-time sebagai layouter buku. Sehingga praktis di semester kedua aku kuliah sambil bekerja. Setiap selesai kuliah, aku berangkat ke kantor penerbit untuk bekerja. Gaji sebesar Rp. 350.000,- perbulan menjadi pendapatan pertama hasil keringatku sendiri kawan. Alhamdulillah..

Di semester kedua, aku memperbanyak latihan soal-soal SPMB agar siap menghadapi SPMB 2007 disamping melakukan aktifitas kuliah dan bekerja. Tidak lupa sesekali aku survei mengelilingi UGM dan universitas lainnya seperti UNY dan UIN. Terkadang aku membayangkan, bagaimana jika aku bisa kuliah di PTN tersebut, pasti kedua orangtuaku akan bangga begitupula dengan diriku. Semester kedua berjalan, aku tetap dalam aktifitas kuliah dan bekerja, hingga akhirnya aku mendapat IPK 3,83 dan berhasil mendapat penghargaan sebagai lulusan terbaik di IPPI Yogyakarta.

Selesai lulus dari IPPI aku tetap bekerja sebagai layouter dan desainer grafis, namun pekerjaan tersebut tidak menghalangiku untuk tetap kembali ketujuan semula, ya.. melanjutkan kuliah ke PTN. Hmm, dengan kemantapan hati dan do’a restu dari orangtua akhirnya aku kembali mendaftar ke PTN. Kali ini aku mendaftar untuk mengikuti Ujian Masuk (UM) UGM. Aku sengaja membidik bidang IPS kawan, he2.. karena sangat tidak logis bagiku mendaftar dibidang IPA. saat itu pilihan pertama adalah S-1 manajemen, kedua S-1 Hubungan Internasional dan terakhir S-1 Sastra Inggris. Sebetulnya dari awal aku sudah pesimis kawan, karena kelemahanku ada pada materi-materi yang diujikan.Ya, Lagi-lagi aku tidak bisa mengerjakan soal-soal SMA seperti Sejarah, Geografi, Matematika SMA dsb. Akhirnya pada saat pengumuman aku pun dinyatakan gagal diterima di UGM. Aku sangat kecewa waktu itu, lagi-lagi aku menyalahkan diri sendiri. Mengapa dulu aku tidak sekolah di SMA, tapi justru SMK. Mungkin jika aku masuk SMA, masuk perguruan tinggi negeri merupakan hal yang mudah bagiku. Ya Alloh…

Disela-sela kegundahan itu, akhirnya aku sempatkan diri membaca sebuah buku yang menurutku sangat inspiratif, “The Way to Win” karangan ustadz Solikhin Abu Izzudin yang waktu itu aku pinjam dari seorang teman. Setelah membaca buku tersebut aku sadar bahwa aku tidak boleh menyerah hanya karena ujian yang diberikan Alloh kepadaku. Boleh jadi kegagalan ini memperingatkanku agar segera bangkit dan menggunakan cara-cara yang lebih kreatif untuk sukses, untuk menjadi seorang pemenang, ya..” The Winner”.

Berangkat dari motivasi itu dan dukungan penuh daru ibuku akhirnya aku kembali  mencoba mendaftarkan diri di UGM. Kali ini aku mendaftarkan diri di Ujian Masuk program Diploma 3 UGM karena mengingat ujian SPMB sudah ditutup. Meskipun sebetulnya aku masih pesimis, tapi kali ini aku lebih “gila” kawan, ya.. aku mendaftarkan diri untuk mengikuti ujian masuk di program studi kelompok IPA, yakni prodi D3 KOMSI (Komputer dan Sistem Informasi) yang terletak di fakultas MIPA (Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam). Beruntung ternyata materi yang akan diujikan adalah Matematika Dasar, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Pengetahuan Umum. Sehingga aku bertekad mati-matian untuk bisa masuk di prodi tersebut.

Aku mengurangi waktu tidur untuk belajar materi yang diujikan disamping kesibukanku bekerja sebagai layouter di penerbit. Saat ujian aku sangat pesimis karena lagi-lagi terbentur di pelajaran Matematika yang di standarkan dengan Matematika SMA saat itu. saat itu aku hanya bisa berdo’a semoga Alloh memberikan keajaiban agar aku diterima di Fakultas MIPA, fakultas yang saat itu aku pikir tempatnya anak-anak SMA, jurusan IPA. Dan ternyata sungguh Alloh mendengar do’a aku kawan. Aku yang mendaftarkan diri dengan ijazah SMEA dinyatakan diterima di Program Studi D3 Komputer dan Sistem Informasi Fakultas MIPA. Aku masih tidak percaya, Aku anak SMEA bukan SMA jurusan IPS apalagi IPA, tapi diterima di Fakultas MIPA. Sungguh keajaiban bagiku. Allohu Akbar…!

Saat itu akhirnya aku sadar, kekuatan keyakinan dan do’a mengalahkan segalanya. Aku melihat hampir mayoritas teman-teman kuliah aku di D3 Komsi adalah lulusan SMA, jurusan IPA. Meskipun ada juga beberapa yang dari SMK, namun bukan dari SMK Ekonomi sepertiku, melainkan SMK teknik, yang juga diajari Fisika, Kimia dan Biologi. Subhanallah, akhirnya dengan berbekal uang hasil bekerja dan sedikit tambahan dari orangtua aku membayar biaya masuk di UGM. Alhamdulillah..

Dari sini aku mulai belajar manajemen waktu. Aku sering mengikuti seminar-seminar manajemen diri, trainning motivasi dsb. Begitu banyak ilmu baru yang aku dapatkan, disamping kawan-kawan yang luar biasa di FMIPA UGM. Di sana aku mempunyai banyak kawan yang dulunya berasal dari SMA jurusan IPA, ada yang dari Kimia, Fisika, Matematika yang menurutku mereka adalah orang-orang luar biasa. Aku kuliah dengan begitu percaya diri dan semakin mempunyai fokus yang mantap, meskipun lemah dibidang ilmu-ilmu sains (Kimia, Fisika, Matematika dsb) tapi aku merasa senang dengan matakuliah yang berhubungan dengan komputer khususnya pemrograman dan basisdata. Aku sadar bahwa untuk mempelajari Ilmu Komputer yang dibutuhkan adalah analisa, logika dan bahasa inggris yang baik.

Semester kedua di UGM aku diminta oleh IPPI Yogyakarta (kampusku dulu) untuk mengajar di sana. Waktu itu aku terkejut karena aku belum pernah sekalipun mengajar. Aku pun akhirnya bersedia dengan berbekal kemampuan teknis dan kemampuan verbal yang aku bawa sejak menjadi penyiar radio saat SMEA. Sewaktu aku mengajar, aku merasakan kenikmatan tersendiri. Dari sana aku mulai menyadari, ternyata mengajar merupakan hal yang menyenangkan bagiku. Disamping mengajar materi yang memang aku kuasai, hobi ngomong akhirnya pun tersalurkan secara positif

Aktifitas kuliah, mengajar dan mengerjakan beberapa proyek desain grafis dan mengikuti organisasi membuatku merasa menjadi orang yang super sibuk waktu itu. Bagaimana tidak, hampir tidak ada waktu luang lagi bagiku. Pergi pagi pulang malam menjadi aktifitas rutin setiap hari. Aku beruntung memiliki teman-teman yang selalu siap mendengarkan keluh kesahku dikampus. Namun hal ini justru mendidikku mengatur waktu sebaik mungkin. Aku rela mengurangi waktu tidurku untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah yang menumpuk, menyelesaikan proyek, bahkan aku masih sempat mencuci baju.hehe.. 🙂

Di semester empat aku mendaftar di Omah TI, sebuah organisasi yang memberikan begitu banyak hal yang sebelumnya belum aku ketahui. Disana adalah perkumpulan mahasiswa ahli komputer dan teknologi informasi. Banyak dari mereka adalah orang-orang yang waktu SMA-nya pernah ikut olimpiade dan kejuaraan komputer. Sehingga di sini aku banyak belajar dari sang ahli. Aku tidak mengira akan bertemu dengan orang-orang seperti mereka. Sungguh suatu anugrah bagiku. Di Omah TI aku mulai mengenal banyak dosen, aku seringkali diajak untuk mengerjakan beberapa Proyek Sistem Informasi. Proyek–proyek itulah yang memacuku untuk selalu mengasah skill, tiada hari tanpa latihan, latihan dan latihan. Seolah tiada lagi waktu untuk kegiatan yang sia-sia. Aku merasakan waktu yang begitu berharga hingga jika ada sedikit saja waktu aku terbuang maka aku merasa tidak produktif. aku mulai terbiasa mengerjakan proyek berbasis aplikasi web. Dan semakin memperkuat positioning-ku untuk menjadi professional di bidang Web Development dan Web Design.

Seiring bertambahnya skill dan teman-teman di ilmu komputer, lambat laun undangan sebagai pembicara, trainner di bidang web dan desain mulai berdatangan. Mulai dari kampus ke kampus, fakultas ke fakultas aku sering diminta untuk mengisi training dan pelatihan. Sayangnya terkadang aku tidak memiliki jadwal yang pas sehingga terpaksa menolak permintaan tersebut. Kesibukan memang penting namun kontrol harus tetap tetap terjaga agar tetap seimbang antara akademik, organisasi dan pekerjaan.

Tanggal 19 Agustus 2010, akhirnya aku berhasil menamatkan kuliah di Program Diploma 3 KOMSI dengan IPK 3,58 (cumlaude). Aku sangat bahagia waktu itu karena bisa membuat kedua orangtuaku bangga. Dan yang paling membahagiakan lagi adalah, aku berhak mengikuti program alih jalur ke S-1 Reguler Ilmu Komputer di fakultas yang sama, FMIPA UGM. Aku tidak pernah berpikir, tidak diterimanya aku di UNDIP membuatku bisa kuliah di UGM. Tidak diterimanya aku di S-1 Sastra Inggris justru membuatku bisa kuliah di S-1 Ilmu Komputer. Padahal engkau tahu kawan, Ilmu Komputer adalah program studi yang memiliki passing grade yang tergolong tinggi di UGM, kedua setelah Program Studi Kedokteran Umum. Program studi yang tidak semua lulusan SMA dari jurusan IPA sekalipun bisa diterima melalui UM-UGM maupun SNMPTN saat ini. Program Studi yang setidaknya dibutuhkan minimal 40 juta untuk bisa masuk melalui Program PBS (Penelusuran Bibit Swadaya). Skenario Alloh memang begitu luar biasa indah, kawan. Tidak cukup disitu, ternyata baru kusadari Alloh justru memberikan kenikmatan kepadaku untuk “mencicipi” kuliah di Diploma 1 dan Diploma 3. Sujud syukur aku panjatkan kepadaMu ya Alloh. Allohu akbar..

“Boleh jadi engkau membenci sesuatu pada hal ia amat baik bagimu, dan bias jadi engkau menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui (QS. Al-baqarah : 216)”

Sejak saat itu aku menyatakan “Bangga menjadi lulusan SMK”. Aku tidak pernah lagi menyesal menjadi lulusan SMK. Justru SMK-lah yang membuatku bisa meraih cita-citaku untuk masuk ke PTN di UGM. Aku justru sedih jikalau melihat mahasiswa lain yang sebetulnya telah diberi kemudahan sejak SMA kemudian masuk kuliah, namun tidak memanfaatkan kuliahnya untuk belajar. Bahkan ada beberapa mahasiswa yang sudah dijamin orang tuanya secara finansial sehingga dia tinggal memilih jurusan yang diinginkan namun kuliah justru hanya untuk bermain-main dan bersenang-senang saja.

Semoga kisah ini bisa menjadi inspirasi untuk kawan-kawan semuanya. Agar kita lebih bersyukur atas apa yang Alloh anugrahkan kepada kita, agar kita bisa lebih menghargai setiap proses pendidikan yang kita lalui, menghargai waktu yang kita miliki dan menggunakan setiap waktu yang kita lewati untuk meningkatkan kapasitas dan potensi kita. Ayo Semangat Kuliah  ! 😀

This entry was posted on Saturday, December 4th, 2010 at 4:42 am and is filed under Campus, Motivation. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

17 Responses to “Aku Bangga Jadi Lulusan SMK !”

  1. mb nina Says:

    Subhanallah…sepakat..skenario Alllah memang skenario terbaik yg tiada tandingannya…mb jg bangga jd lulusan “smf” 🙂 semangat…positif thinking trus kpd skenarioNya..

  2. admin Says:

    @mb nina : siap mb nina.. semangat 😀

  3. azca Says:

    trmakasih buat motifasinya karena sebenarnya saya juga sama dg anda saya awalnya juga ingin ke sma tapi malah ke smk dan tahun2011 saya juga akan mendaftar ke ptn trimakasih buat motifasinya saya akan belajar agar bisa diterima di ptn,,, aminnn

  4. admin Says:

    @asca : Semua berawal dari keyakinan dan seberapa besar usaha kita. Bukan pada kondisi dan status kita. Tetap optimis & berdo’a. semoga sukses amin 🙂

  5. Isabella ananta Says:

    Sungguh menginspirasi saya yg juga bersekolah di SMK dan sangat ingin melanjutkan kuliah di tempat terbaik.. tulisan ini membuat saya optimis sekali.. Sukses terus ya mas 🙂

  6. admin Says:

    @Isabella : Sip, Optimis Saja 😀

  7. Wawan Says:

    Saya alumni D3 Komsi yg nda sengaja ketemu dg situs ini. Salut dengan semangat dan perjuangan njenengan. Terus berjuang … semoga sukses

  8. admin Says:

    @mas Wawan : he2, terimakasih mas.. semoga sukses juga untuk Anda 😀

  9. wahyu Says:

    Pengalaman yang sangat memberikan motivasi buat saya..saya juga dari SMK,,dan saya berkeinginan masuk d3 KOMSI UGM 2011..
    mohon do’anya ????
    amin.

  10. admin Says:

    @Wahyu : amin, nggih.. semoga mas. sukses buat njenengan.. terimakasih 🙂

  11. aziz Says:

    hebat mas perjuangannya…
    Allah memang Maha Mengetahui apa yg terbaik untuk hambanya..

    waduh sayang ya angkatan q udah gak bisa melanjutkan ke S1 reguler, terakhir 2008.. 🙁
    tp aq yakin pasti ada skenario lain yg udah disiapkan Sang Maha Kuasa untuk q.. 🙂

  12. admin Says:

    @aziz : insyaAllah, Dia tahu yang terbaik.. selamat berdjoeang 😀

  13. risma Says:

    happy ending, full barakah insyaAllah…

    Barakallahu fiek, Wawan 🙂

  14. admin Says:

    @mb risma : amin.. jazakillah ya mba’ 🙂

  15. hana Says:

    wah hebat! ya semoga pilihan aku jurusan SMK ga salah pilih
    AMIN

  16. admin Says:

    @hana : nggih, amin de’…

  17. Local Dating Essex Says:

    Fantastic beat ! I would like to apprentice even as you amend your website, how could i subscribe for a blog web site? The account aided me a acceptable deal. I have been a little bit familiar of this your broadcast provided bright transparent idea
    .-= Local Dating Essex´s last 1 ..1 =-.

Leave a Reply

CommentLuv badge